Bimo bangga.... bercampur haru dan bahagia... begitu telapak kakinya menginjak bumi negeri yang kaya raya UAE. Nama negara yang belum pernah dia dengar sebelumnya sepanjang umurnya.
Kini negara itu sudah ada di bawah telapak kaminya.... Ya Allah ijinkan aku menjadi pria makmur dan barokah di negara ini.... Kaya yang sesungguhnya.... begitu ujarnya dalam hati.
Dan kemujuran pun mulai datang kepada Bimo. Karena diterima bekerja sebagai sopir pribadi seorang bos minyak. Tugasnya jelas antar jemput sang bos, yang kebetulan umurnya tak jauh di atasnya, komunikasi pun lebih terbuka. Meskipun semula Bimo sering gagal paham, tak berapa lama kemudian dia sudah lancar memahami bosnya. Kadangkala bu bos dan anak gadisnya juga minta diantar pergi shopping, dengan diiringi sedikit perbincangan. Tetapi yang terpenting dari itu semua... keluarga itu murah hati dan dermawan.. dinar mengalir seperti air membasahi dompet Bimo... Alhamdulillah... Terima kasih ya Allah... Semua untukmu sayangku.... Dewi dan Intan, anakku...
Sebulan di Dubai, Bimo mulai rajin menabung.. Urusan biaya dengan biro penyalur tenaga kerja dengan cepat dia lunasi. Kini semua gajinya sudah penuh miliknya....
Bulan kedua sebagian gajinya sudah terkumpul untuk rumah. Dengan tambahan bonus dari bos dan keluarganya maka Bimo pun mulai kirim uang ke Jakarta.... Jumlahnya lumayan besar, membuat Dewi menangis terharu dan langsung bersujud, memanjatkan doa untuk kesehatan suaminya yang berjuang di ujung lain dunia. Daerah yang dekat dengan perang dan ISIS, kata orang.
Seiring dengan uang yang terus mengalir... Bimo pun makin rajin berdoa dan bersujud, memanjatkan doa untuk kesehatan dan keselamatan anak istrinya yang hidup sendiri tanpa penjagaan darinya. Semua dia titipkan kepada Yang Kuasa. Hanya itu yang dapat dia lakukan.
Cerita seru mulai muncul di bulan ke 10 dalam petualangannya.
Sang bos mendapat tugas dari perusahaan untuk memantau proyek baru di luar negeri.
Kadang 3 hari, kadang 5 hari, kadang 10 hari sang bos pergi ke luar negeri. Bimo pun nganggur di rumah bos. Kini dia punya tugas lain.... merawat taman dan menjaga rumah. Tentu termasuk istri dan anak gadis bos. Dua wanita yang bukan manusia, tapi lebih mirip bidadari yang turun dari
Kayangan.. pikir Bimo dalam hati.
Baiklah ... meskipun pekerjaan baru ini lebih melelahkan tapi Bimo menerima dengan senang hati.. serta ikhlas menjaga amanah bos. Di saat-saat lelah terkadang dia membayangkan wajah Dewi dengan hati rindu yang teramat dalam. Meskipun Dewi agak hitam dan pesek hidungnya, tapi dia lah bidadarinya, jantung hatinya. Walaupun ada dua bidadari yang indah sedang lalu lalang di dekatnya...itu tak kan mampu mengobati rindunya kepada Dewi sama sekali.
bersambung..
Kini negara itu sudah ada di bawah telapak kaminya.... Ya Allah ijinkan aku menjadi pria makmur dan barokah di negara ini.... Kaya yang sesungguhnya.... begitu ujarnya dalam hati.
Dan kemujuran pun mulai datang kepada Bimo. Karena diterima bekerja sebagai sopir pribadi seorang bos minyak. Tugasnya jelas antar jemput sang bos, yang kebetulan umurnya tak jauh di atasnya, komunikasi pun lebih terbuka. Meskipun semula Bimo sering gagal paham, tak berapa lama kemudian dia sudah lancar memahami bosnya. Kadangkala bu bos dan anak gadisnya juga minta diantar pergi shopping, dengan diiringi sedikit perbincangan. Tetapi yang terpenting dari itu semua... keluarga itu murah hati dan dermawan.. dinar mengalir seperti air membasahi dompet Bimo... Alhamdulillah... Terima kasih ya Allah... Semua untukmu sayangku.... Dewi dan Intan, anakku...
Sebulan di Dubai, Bimo mulai rajin menabung.. Urusan biaya dengan biro penyalur tenaga kerja dengan cepat dia lunasi. Kini semua gajinya sudah penuh miliknya....
Bulan kedua sebagian gajinya sudah terkumpul untuk rumah. Dengan tambahan bonus dari bos dan keluarganya maka Bimo pun mulai kirim uang ke Jakarta.... Jumlahnya lumayan besar, membuat Dewi menangis terharu dan langsung bersujud, memanjatkan doa untuk kesehatan suaminya yang berjuang di ujung lain dunia. Daerah yang dekat dengan perang dan ISIS, kata orang.
Seiring dengan uang yang terus mengalir... Bimo pun makin rajin berdoa dan bersujud, memanjatkan doa untuk kesehatan dan keselamatan anak istrinya yang hidup sendiri tanpa penjagaan darinya. Semua dia titipkan kepada Yang Kuasa. Hanya itu yang dapat dia lakukan.
Cerita seru mulai muncul di bulan ke 10 dalam petualangannya.
Sang bos mendapat tugas dari perusahaan untuk memantau proyek baru di luar negeri.
Kadang 3 hari, kadang 5 hari, kadang 10 hari sang bos pergi ke luar negeri. Bimo pun nganggur di rumah bos. Kini dia punya tugas lain.... merawat taman dan menjaga rumah. Tentu termasuk istri dan anak gadis bos. Dua wanita yang bukan manusia, tapi lebih mirip bidadari yang turun dari
Kayangan.. pikir Bimo dalam hati.
Baiklah ... meskipun pekerjaan baru ini lebih melelahkan tapi Bimo menerima dengan senang hati.. serta ikhlas menjaga amanah bos. Di saat-saat lelah terkadang dia membayangkan wajah Dewi dengan hati rindu yang teramat dalam. Meskipun Dewi agak hitam dan pesek hidungnya, tapi dia lah bidadarinya, jantung hatinya. Walaupun ada dua bidadari yang indah sedang lalu lalang di dekatnya...itu tak kan mampu mengobati rindunya kepada Dewi sama sekali.
bersambung..
Komentar
Posting Komentar